TEMPE GORENG DI RUMAH

Tak terasa seminggu sudah terlewati di Semarang, kota keduaku. Rasanya baru kemarin aku sarapan di rumah, bareng ayah ibu dan ketiga adikku yang heboh. Duduk melingkar di meja makan menikmati masakan ibu yang super lezat tak tertandingi dengan diselingi celotehan yang tak pernah berhenti. Ibuku jago masak, semua masakannya lezat. Jika aku yang memasak, adikku selalu berteriak-teriak protes ” Mbaaak! Besok yang masak Ibu aja ya, masakannya Mbak Opi kurang mantap.”

Tempe goreng. Makanan itu selalu ada di pagi kami. Tidak pernah tidak. Makanan pembuka pagi. Ayah, aku dan adik-adik biasanya saling berebutan tempe goreng yang baru selesai diangkat.Tempe goreng ibuku lezat sekali, dipotong oleh tangan bidadari dunia, dibumbui dengan ramuan cinta, dimasak dengan api kehangatan, dihidangkan dengan doa keberkahan. Tempe goreng, secangkir teh hangat, dan canda tawa yang tak pernah kutemui selain di rumahku.

Kebersamaan dan kenikmatan yang hanya bisa kami nikmati sekali dalam setahun. :’)

Advertisements

SEMANGAT MENULIS!!!

Menulis membawa kesenangan tersendiri bagiku. Lewat tulisan aku bisa mencurahkan seluruh perasaanku secara tidak langsung.  Lewat tulisan aku bisa berbagi informasi pada sesama, lewat tulisan aku belajar menginspirasi orang lain. Lewat tulisan aku bisa marah “secara terhormat”, lewat tulisan aku bisa mengkritik “secara terhormat”. Aku menyebutnya terhormat karena setiap kata yang dituliskan  bisa kupikirkan terlebih dahulu manfaat serta mudharatnya bagi orang lain. berbeda halnya dengan bahasa lisan secara langsung. Saat emosi meningkat, kata-kata yang terucap pun diluar kontrol akal sehat dan alhasil akan banyak jiwa tersakiti karena kata-kata yang terucap lisan.

“Jagalah ilmu yang kau dapat dengan tulisan! Menulislah dan dunia akan menenalmu!”