Tak terasa seminggu sudah terlewati di Semarang, kota keduaku. Rasanya baru kemarin aku sarapan di rumah, bareng ayah ibu dan ketiga adikku yang heboh. Duduk melingkar di meja makan menikmati masakan ibu yang super lezat tak tertandingi dengan diselingi celotehan yang tak pernah berhenti. Ibuku jago masak, semua masakannya lezat. Jika aku yang memasak, adikku selalu berteriak-teriak protes ” Mbaaak! Besok yang masak Ibu aja ya, masakannya Mbak Opi kurang mantap.”

Tempe goreng. Makanan itu selalu ada di pagi kami. Tidak pernah tidak. Makanan pembuka pagi. Ayah, aku dan adik-adik biasanya saling berebutan tempe goreng yang baru selesai diangkat.Tempe goreng ibuku lezat sekali, dipotong oleh tangan bidadari dunia, dibumbui dengan ramuan cinta, dimasak dengan api kehangatan, dihidangkan dengan doa keberkahan. Tempe goreng, secangkir teh hangat, dan canda tawa yang tak pernah kutemui selain di rumahku.

Kebersamaan dan kenikmatan yang hanya bisa kami nikmati sekali dalam setahun. :’)

Advertisements

About Novilia Lutfiatul

bermimpi menjadi wanita dunia yang dicemburui bidadari surga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s