Entah  mendapatkan dorongan dari mana, tiba-tiba aku ambisius sekali menghabiskan uangku untuk membeli buku. Seakan selalu diingatkan untuk selalu membeli buku, buku dan buku. Alhasil, setiap kali ke toko buku, rasanya mata ini tak tahan untuk tidak membelinya. Minimal satu buku pasti akan kubeli. Buku adalah investasi, begitulah pikirku. Tak jarang aku bisa menghabiskan lebih dari dua ratus ribu perbulan untuk membeli buku.
Aku juga heran, entah kenapa sejak memasuki dunia perkuliahan, tepatnya usia 18 tahun, selera bukuku pun berubah. Dulunya aku tak pernah suka buku motivasi, buku biografi, dan buku-buku yang kuanggap “berat” lainnya. Semasa SD-SMA buku kesukaanku adalah novel, komik dan buku cerita. Di perpustakaan SMA ku dulu aku selalu menghabiskan lebih dari tiga novel dalam seminggu. Hanya novel yang aku lahap habis.

Dahulu, guruku  pernah memerintahkan semua siswanya untuk membuat peta hidup. “Semua  impian yang ingin kau wujudkan dalam setiap pertambahan usiamu”, ujarnya saat itu.  “Buatlah sebagus dan sedetail mungkin, bermimpilah setinggi-tingginya,  sertakan gambar juga  agar kalian semangat untuk mewujudkannya. ”
” Mengapa kami harus membuat peta hidup Pak?”
“Agar kalian tak takut bermimpi, agar kalian memiliki target dalam hidup ini. Bermimpilah dan Allah pasti akan mengabulkan mimpimu.”

Akupun membuatnya dengan penuh semangat. I do my best for this project. Aku tuliskan dan gambarkan semua mimpiku dalam peta hidup tersebut. Aku bermimpi dengan harapan Ia mendengarkan dan mengabulkan mimpiku. Peta hidupku masuk sepuluh besar terbaik  seangkatan.

Seiring perjalanan waktu, aku mulai terlupa dengan peta hidup itu. Entah sudah tergeletak dimana, aku tak tahu. Dahulu ibu membawanya pulang ke rumah, dan beliau lupa meletakkannya dimana. Awalnya kecewa, sayang sekali mimpi-mimpi yang sudah kutuliskan tak bisa dilihat lagi. Namun segera terobati dan berharap masih bisa membuat yang lebih bagus lagi.

Beberapa tahun kemudian, saat aku pulang kampung, adikku tiba-tiba berkata. “Mbak, dulu pernah buat daftar mimpi yang ada gambarnya?”
“Iya, ada laminatingnya juga Dek. Kamu lihat?”
“Lihat, itu ada di kardus mainanku.” ujarnya polos.

Senang luar biasa, akhirnya menemukan kembali peta hidupku yang ternyata selama ini terpendam bersama mainan-mainan. Kubaca satu persatu mimpi yang kutuliskan  dulu. Mimpi-mimpi yang  sudah dan akan terwujud satu persatu. Juara di kelas selama SD-SMA, SMA gratis di Insan Cendekia,  kuliah di FK  PTN favorit pada usia 18 tahun, dan lain-lain.

Dan aku tercengang.

Di usia 19 tahun, ternyata aku sudah menargetkan untuk mempunyai perpustakaan yang berisi buku-buku best seller. Aku sudah bermimpi untuk membeli buku-buku motivasi, buku-buku agama dan buku-buku yang dulu membuatku ngantuk. Inilah jawaban selama ini, mengapa tiba-tiba aku antusias membeli dan mengumpulkan buku sebanyak-banyaknya. Mengapa aku tak sayang mengeluarkan uang untuk membeli buku. Mengapa mataku selalu tak tahan melihat buku. Semua  karena Ia telah mendengar mimpiku. Mimpi memiliki perpustakaan di usia 19 tahun.

Jangan pernah takut bermimpi! Mari bermimpi bersamaku!

Advertisements

About Novilia Lutfiatul

bermimpi menjadi wanita dunia yang dicemburui bidadari surga

4 responses »

  1. Filmia says:

    Selamat jalan ukhty…
    Semoga ukhty berada di sampingNya dan mendengar rahasia-rahasia dariNya… Aamiin…

  2. maryu C2 says:

    Dan, mimpi itu kelak akan terwujud di dalam Jannah-Nya

  3. Andi Yanto says:

    Terharu membaca ini, sungguh mimpi yang luar biasa

  4. androsmeda says:

    Buku adalah investasi masa depan*setuju sekali dg pernyatan tsb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s